Minggu, 04 Juni 2017

Bulan 5 ataupun 6 Bukan Waktu yg Tepat Menggantikan Bulan 4


Berawal dari bongkar-bongkar lemari dan menemukan buku mungil kecil ini. Tentunya buku ini spesial, selain kawan-kawan yg memberi dan bentuknya yg unik, ternyata aku pernah mengisi beberapa lembar kertas dengan tempelan foto, tulisan dan bahkan tempelan tiket nonton. Dan semuanya membuat aku flashback ke tahun 2015. Entah ini kenapa jadi melow terus menulis ini, atau ada sedikit kerinduan kepada seseorang yg terakhir bertemu dan terakhir memutuskan untuk tidak berteman di Bulan 6, setelah kejadian itu ....



Hari ini aku baru tersadar jika ke-tiga tanggal yg tertera di ke-tiga tiket tersebut sama-sama ada di tahun 2015. Dan yg bikin aku tersadar lagi, bulan ke-tiga tiket tersebut berurutan bulan 4, bulan 5 dan bulan 6. Tapi tentunya itu bukan bersama 1 orang yg sama, bukan juga bersama 3 orang yg berbeda, hanya dengan 2 orang yg berbeda. Kalau ada yg bertanya "Seandainya mesin waktu Doraemon beneran ada, mau ke waktu yg mana?", Saat ini jawabanku pasti "Ke bulan 5 2015". Entah ini jawaban penyesalan atau sedikit kerinduan ha ha... but time must go on, waktu harus berputar, sudah tidak ada penyesalan hanya saja mengutuk bodoh diri ini telah menyia-nyiakan seseorang di Bulan 5 dan Bulan 6. Dia pernah bilang sebelum berpisah dan saling tidak menegur sapa lagi "Orang yg spesial di hati, bakalan kalah sama orang yg selalu ada" dan kamu benar harusnya aku mendengarkanmu. Tapi pada saat itu bukannya aku bilang "Belum siap" atau itu hanya alasanku untuk menghindari perasaanmu ha ha ha klasik... Aku selalu mengambil sisi positifnya, Tuhan ingin menjagaku dan menjagamu sampai pada waktunya entah aku denganmu atau kita dengan masing-masing sesuai takdir Tuhan :) dan nggak tau yg sekarang bersamamu akan tetap bersamamu hingga kelak atau bukan. Cuma 1 yg bikin nyesel, why kita mesti lost komunikasi dan berhenti menjadi teman ... aku rasa menjadi teman selama 2 tahun di satu kelas bahkan di satu kelompok Biologi yg sama itu belum cukup :')


Di bulan 4 aku masih menyukai seseorang yg benar-benar aku sukai (dulu) dan ada goresan luka yg dibuatnya hingga saat ini yg menjadi alasan aku harus membenci rasa suka itu. Di bulan 5 kamu datang yg akupun tidak menyadari kamu ada rasa , sampai bulan 6 kamu mengungkapkannya dan aku baru sadar selama itu ada rasa pada salah satu dari 2 orang teman pria-wanita, dan itu rasa suka mu... Tidak terasa sekarang 2017 di bulan 6 yg artinya sudah 2 tahun kita menjadi 2 orang yg tidak saling kenal. Mungkin ini akan menjadi pelajaran bagiku untuk menghargai perasaan orang lain. Semoga aku, kamu dan dia akan menemukan yg tepat secara indah sesuai dengan waktu ketentuan Tuhan, karena banyak yg bilang "Semua akan Indah pada Waktunya ... (jika kita berusaha dan selalu ingat Tuhan)". Karena bulan 5 dan bulan 6, bukan waktu yg cukup untuk menghapuskan goresan luka di bulan 4.
 -End-

Senin, 08 Mei 2017

Tentang Menjadi "Istri"

Tentang menjadi "istri",
Lagi iseng aja nulis ginian karena pengen aja, sering bahas ginian padahal "masih angan-angan" untuk menjadi "istri". Dari kemarin-kemarin masih kepikiran, banyak unek-unek, banyak saran, banyak kritik, banyak pro dan kontra yg saya alami selama berbincang-bincang dengan orang-orang terdekat saya terkhusus untuk kaum perempuan.

Banyak yg sering cerita dan saya ingin menanyakan pendapat tentang "pernikahan" tentunya menjerumus ke masalah "asmara". Murni bukan karena saya akan menikah atau saya akan menjadi istri dekat-dekat ini, hanya iseng aja (menurut saya) ditengah-tengah melakukan kegiatan serius.
Saya sering mendengar bahkan saya sendiri sering mengatakan "pengen nikah, pengen jadi istri, pengen jadi ibu, pengen di halalin , pengantin pernikahan bla bla bla...calon haha". Teman-teman saya bahkan juga ada yg seperti itu, tapi pendapat dan perspektif orang berbeda-beda. Saya akan bahas dari mulai yg pro dulu ya karena kalau yg kontra kayaknya bahasannya berat.

Buat kalian perempuan yg "merasa" siap untuk dipinang banyakin doa nya semoga disegerakan oleh-Nya. Oke kalau dilihat dari segi Agama terutama Agama yg mayoritas di Indonesia ini, menyarankan "lebih baik dihalalkan daripada mendekati zina karena Allah melarang hal-hal yg mendekati zina... " ini konsep menurut saya kalau dilihat dari segi kepercayaan yg saya anut dan bisa diperkuat dengan pencarian-pencarian ayat, hadis atau menurut ulama hasil Googling. Saya mengerti kalian perempuan yg sering mengatakan "aku pengen nikah aku pengen nikah...", tidak ada yg salah dari ucapan kalian itu. Siapa tau itu doa yg bisa segera di jabah oleh-Nya. Dilihat dari segi agama mayoritas pun itu lebih baik bukan. Kemarin waktu tiba-tiba saya melakukan "dosa" karena nonton FF8 duluan (ini menyebabkan perang dingin antara saya dan best soulmate saya), saya sempat berbincang dengan salah satu teman baik saya yg kebetulan dia ini adalah salah satu cucu Kyai Cukup Terkenal dan Disegani dari Surabaya (dia anak Kyai di Kudus). Ms.S panggilan namanya sama kayak sebutan penyanyi dangdut hehe. Setelah beli tiket dan harus nunggu kurang lebih 2 jam buat nonton, saya dan ms.S ini pergi ke "tempat jajan" sejenak. Karena saya tau dia lagi galau gara-gara mas yg namanya "Riyan" (saya nggak tau yg mana, terakhir dia jadi pembaca Bab 3 pas haul yg didatangi ms.S), akhirnya saya nanyain masalah nikah tentunya karena alasan lain dia sering ngomong pengen nikah. Saya lupa percakapan persisnya seperti apa tapi kurang lebih saya menanyakan tentang hal-hal ini "Bad, bukannya nikah itu ribet ya? Kan setidaknya udah punya pegangan buat hidup setelah nikah, udah siap buat mendidik anak nanti nya, belum lagi nanti kalau suami takutnya lirik sana sini, perempuan kan ada yg lebih pencemburu apalagi udah jadi istri, terus kalau naudzubillah ini takut ada poligami, kalau belum kenal banget sama suami bukannya resiko nya lebih besar lagi...". Dia jawab dengan santai seperti biasanya, "Allah itu udah ngatur semuanya termasuk rejeki, dan biasanya dan kebanyakan yg aku tau setelah nikah Alhamdulillah rejeki malah mengalir lebih. Kalau nanti kita diijinkan suami untuk kerja ya alhamdulillah bisa nambahin pemasukan, penting percaya sama Allah udah ngatur semuanya. Nikah itu menyempurnakan ibadah, ngejauhin zina karena kalau mau ngapa-ngapain sama suami itu halal halal aja. Kalau masalah punya anak itu menurutku, anak itu titipan Allah. Kalau pengen pacaran habis nikah dulu itu masih bisa dilakuin pas udah punya anak, soalnya aku ngeliat ada pasangan yg udah nikah bertahun-tahun tapi belum dikaruniai anak, kan apa salahnya untuk mencoba (ini kemudian bahas tentang kapan "berhubungan" dengan suami, saran yg bagus). Siap nggak siap jadi ibu dan ngedidik anak itu lebih baik praktek nya langsung, nanti juga biasa bisa mendidik anak. Kalau bilang siapin diri dulu aja juga ada benernya, tapi kalau nggak praktek langsung kapan mau bener-bener siap...."

(Menyeruput es Americano) ".... aku tipe perempuan yg pencemburu, tapi selama kita bisa menjaga penampilan di depan suami, kayaknya resiko suami liat kanan kiri kecil. Kalau punya uneg-uneg sama suami ya bisa aja nanti pas doa bareng habis jamaah dikeras-kerasin suaranya, kamu ngertikan aku suka ngasih kode haha... Untuk masalah poligami ya, ini susah bahasannya. Aku nggak pengen di poligami, balik lagi ke menjaga penampilan diri tadi. Doa nya ya satu aja sampai meninggal nanti ...." Kemudian kami membahas tentang perjodohan.

Itu tadi yg pro sama nikah, ini saya menemukan beberapa teman diskusi perempuan yg dari bahasannya kontra dari "menjadi istri di usia muda"... Sebagai mahasiswa terutama mahasiswa tingkat akhir ini ternyata mereka memiliki pemikiran yg berbeda dengan yg keburu pengen nikah. Ada yg khawatir persis dengan pertanyaan yg saya ajukan sebelumnya kepada ms.S. Namun ada juga yg menurut saya mereka menggunakan "pemikiran rasional" kalau dikaitan dengan kondisi saat ini.

"Suka sebel sama pemikiran perempuan yg keburu minta dihalalin, apalagi nggak si laki nggak si cewek ini duit masih minta orang tua. Mau dikasih makan apa nanti habis nikah, duit dari orang tua? (Kemudian dia cerita orang tuanya dulu masih belum punya ketika setelah menikah dan ingin mandiri). Mbok ya sabar dulu, kuliah yg bener, ndang lulus, cari kerja dulu buat nabung, nabungin juga buat anak nanti biar nggak bingung besok makan apa. Dikira nikah gampang ? Belum lagi kalau sama-sama pemikirannya masih kayak bocah, cek-cok terus mau cerai? Kasian tu pada bocah-bocah". Terus ada yg lebih bijak lagi sih kontra sama "pengen nikah muda", dia bilang pas main-main di kos dan seperti biasa saling tukar pendapat "Iya emang enak kalau udah nikah bisa ngapa-ngapain sama suami, mau pelukan, mau ciuman, atau mau ehem juga halal-halal saja. Tapi kan ada yg bilang kalau "kualitas pasanganmu sama dengan kualitasmu", ini bisa dijabarkan dengan berbagai sudut pandang sih, kalau menurutku perbaiki dan buat dulu aja kualitas diri sendiri sambil menunggu "yg pantas dan tepat datang". Misalnya punya pendidikan yg bagus, punya karir yg lumayan bisa membantu finansial keluarga kecil nanti, apalagi tentang kedekatan diri dengan Sang Pencipta". Kemudian berakhir dengan anggukan setuju, karena Rejeki, Jodoh dan Mati sudah ada Yang Mengatur secara adil-adilnya, persiapkan dan pasrhkan saja kepada-Nya.

Jadi keinget ada laki-laki yg bilang "jangan pikirin cinta-cintaan, kuliahmu gak guna"... iyasih sepertinya laki-laki mulai mengagumi perempuan berkarir, meskipun nggak semua laki-laki menginginkan istrinya sibuk berkarir. Pasarahkan saja .... :)

Jaga "Kerudungmu" Mbak

Tetiba merasakan sedih :(
Sekedar berbagi cerita saja sobat,
Ini jelas perintah untuk "perempuan" yg memiliki kepercayaan "Mayoritas" di Indonesia untuk "menutup aurat" dan wajib untuk yg sudah baligh (bisa di baca di sini -> atau sumber lainnya http://www.duniaislam.org/17/11/2014/perintah-dan-hukum-memakai-jilbab-bagi-wanita-muslim/).


Beberapa kali saya melihat "snapgram" atau "storygram" beberapa teman saya yg lagi maen tapi melepaskan "kerudungnya" (bisa dilihat disini apa itu hijab, jilbab, khimar atau kerudung disini atai sumber lainnya -> http://www.duniaislam.org/02/02/2015/perbedaan-hijab-jilbab-khimar-dan-kerudung/).

Kenapa ya saya sedih ketika melihat rambut mereka terurai apalagi berada disekitar banyak yg bukan mukhrimnya. Saya tidak melakukan "judge" karena saya sendiri masih merasa belum benar dan dalam proses belajar untuk menutup aurat. Tapi bagi saya, ketika sudah memutuskan untuk "berkerudung" setidaknya konsisten jangan melepaskan di tempat umum yg ramai. Saya bukan tipe orang yg terlalu fokus dan "harus" pada sesuatu apalagi tentang "kepercayaan (re:agama)". Saya suka kebebasan, tapi saya mengharapkan ke "konsistenan" terhadap "kerudung" karena urusan kita dengan perintah Tuhan. Masa iya sudah ditutup tiba-tiba dibuka lagi, rasanya kayak membuka luka lama gitu haha (canda aja biar nggak yegang keseriusan). Bukankah sudah cukup bagus ketika memakai "kerudung" disertai penggunaan pakaian panjang ya meskipun masih ketat atau nerawang setidaknya sudah mau belajar untuk "menutup".


"Astaga mbak, pada kemana kerudungnya ...?"
"Masih di cuci fee ..wkwk"
"Ah bisa aja mbak ini"
"Wkwk"
Itu hanya mengingatkan loh ya, bukan menyindir atau "mengharuskan", sebagai seseorang yg termasuk makhluk sosialis (katanya manusia sebagai makhluk sosial) dan yg memiliki "kepercayaan" sama :)


dunia semakin menua ....
Mbak mbak jaga kerudungnya...
Ayo belajar bersama....
Menjaga dan menutup aurat....
Yg belum mencoba mari mulai bersama....
Karena ini perintah "kepercayaan" kita untuk menjadi lebih baik :)

Rabu, 22 Maret 2017

Tadinya Melow Garis Keras

Dari mana enaknya bercerita... dari nata turun ke hati ? Haha garing
Teman bukanlah segalanya karena aku sendiri pun pernah punya masa pait buat salah mengartikan arti "persahabatan" mungkin karena waktu itu masih ABG yg emosinya labil. Kalau ada yg bilang yg bisa menghancurkan persahabatan antara pria yaitu harta, tahta dan "wanita", ternyata pria juga bisa menghancurkan artinya "sahabat" antara wanita. Ah itu manusiawi kalau emang sekarang aku mikirnya, itu Tuhan udah merencanakan agar ciptaanNya bisa belajar. Sedikit aja aku ceritakan masa lalu yg pait itu, karena aku sendiri ingin mencoba terapi "virtual forgiveness" dari buku psikologi yg nggak sengaja aku ambil asal pas diperpus kemarin.
Dulu waktu SMP aku gaya gayaan punya geng isinya 4 orang cewek semua, terus pas masuk SMA 3 diantara kami masuk sekolah yg sama dan kebetulan ada 1 diantara mereka sekelas denganku dari kelas 10-12 (kalian pasti yg kenal aku tau, ini bukan buat menjelekkan atau maksud lainnya, tapi ini buat penyedap awal inti aku nulis ini). Ada 1 anggota baru lagi pas SMA sebenernya temen sejak SMP juga dan sampai sekarang kami masih akrab dan kumpul bareng. Waktu itu pas kelas 10 atau 11 aku lupa aku pernah punya "ehem" kakak kelas gitu, kami beserta 2 teman akrab ku itu masuk satu ekskul yg sama sampai suatu saat aku "jadian" sama si "ehem" itu. Awalnya nggak tau gimana sebenernya si "ehem" itu dan masih polos oon nya. Dan sekarang baru sadar kayak apa si "ehem" dulu pas sama aku. Suatu hari aku sama si ehem ada masalah (namanya juga ABG), sampai akhirnya putus. Pas putus baru aku ngeh kalau si ehem itu pernah main serong gitu ketemu mantannya dan pergi sama mantannya pas baru jadian sama aku (ini aku liat sendiri) dan ehem dulu sering keluar sama perempuan lain (ini dari teman baik ku lainnya yg awal bertemu nanya "kamu percaya ramalan?" Aku kangen dia). Lanjot, pas udahan sama si ehem, si ehem awalnya ngerajuk gitu hampir aku kepikat lagi baru terungkap kalau si ehem ndeketin temenku yg dari SMP itu, awalnya aku marah sampai bilang kalau sahabat yg dari SMP itu udah nggak ada lagi. Lama kelamaan yaudah lah biarin aja mereka dan aku masih baik baik aja sama si temenku itu sampai sekarang. Dia nggak pernah cerita sama aku tapi aku kan sebenernya peka cuma pura pura osong aja sama peka. Sampai sekarang aku nggak tau mereka masih apa enggak. Ini keinget gara-gara si denis nanyain si ehem di aku. Lah akunya kan bodo amat, yg lalu udah lah berlalu gitu. 
Mangkannya salah satu alasan aku nggak terbuka sama orang itu karena itu, mungkin karena kejadian kejadian masa lalu juga. Orang tuaku dulu bukan seperti sekarang, dulu mereka (menurutku sebagai anak) kalau aku mau curhat pasti dimarahin duluan, sekarang alhamdulillah udah mau dengerin dulu meskipun kadang baru dimarahin. Pernah juga itu pas itu aku punya diary, ketaun ibuk aku dimarahin sampai 3 hari lebih sampai aku sobek sobek itu diary. Ibuk pernah bilang itu dulu pas marah gara-gara kasus diary itu "kono ben mentingne koncone kono".... 
Itu cerita dulu, sekarang makin bertambah umur aku merasa sudah mulai dewasa haha baru baru ini pas baru masuk kuliah, aku mulai berani untuk cerita ke 3 teman baruku di jaman maba dan sekarang i think they are my member family haha.... seriusan kalau nggak percaya coba tanyakan Tuhan, aku bukan orang yg suka cerita masalah serius ke orang lain dan cenderung menggunakan kebiasaan buruk dengan mengupdate di medsos medsos.. sekarang i have them. Memang keluargaku diatas segala galanya dibawah Tuhan, tapi dengan keberadaan Alfita, Sibad dan Eta ... seperti Tuhan sudah menyusin cerita mereka adalah kepercayaan Tuhan untuk ku bercerita. Ya i know, nggak bisa dipungkiri kadang aku sebal sama mereka atau kadang aku sebal sama keluargaku sendiri, manusiawi karena aku masih belajar menjadi seseorang yg nggak mudah marah atau ngambekan. Kalian pasti yg kenal aku tau aku mudah ngambek tiba tiba terus diem tiba tiba marah nggak jelas, aku nggak tau kenapa begitu tapi seriusan aku lagi belajar dengan petunjuk Tuhan buat mengurangi atau menghilangkan itu. Bukan membandingkan dengan anggota keluarga karena mereka yg bukan memiliki hubungan darah kecuali kalian mengaitkan dengan sama sama cucu Nabi Adam, sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri. Memang ada beberapa teman yg kadang cuma menilai dari luar, judge langsung dari luar tanpa tau apa di dalam diriku ini. Haha ...... katanya selama hidup manusia mengalami proses belajar, ya ini aku masih belajar, mohon bimbingannya. Tadi melow kok sekarang biasa aja ya udah nggak melow melow banget. Big thanks for Allah SWT dan seluruh yg dicintaiNya... thank for ibuk papa, helen sherly ican, alfita sibad eta (ini yg khusus) dan teman teman semuanya yg lainnya, terima kasih sudah membantu belajar...

Jumat, 13 Januari 2017

Bocah Pengamen

Hari ini, sepulang akhir UAS di ujung kuliah Semester Tua aku dan 2 orang temanku menikmati sarapan sekaligus makan siang kami di warung Bu Nur. Kali ini bukan tentang soto, jus alpukat atau cowok tampan yg sedang nangkring disitu, tapi seorang bocah pengamen. Sudah biasa selama aku makan di warung bu Nur banyak pengamen yg menjajakan suaranya demi (semoga) sesuap nasi. Biasanya mereka ada di depan warung sampai akhirnya mereka nekat menodongkan plastik kecil untuk mengumpulkan kepingan koin atau lembaran 2rb. Baru tadi setelah aku selesai makan muncul seorang pengamen entah laki-laki atau perempuan aku membelakanginya. Karena posisi dudukku di pojok dalam, tiba-tiba muncul sesosok makhluk kecil paling usianya 6 atau 7 tahun kurasa, karena dia benar-benar kecil. Waktu bocah itu datang ke mejaku, aku masih mencari-cari koin dan kebetulan aku membeli permen kaki lumayan 5 biji. Setelah aku ambil koin dan 1 permen kaki, kumasukkan koin itu ke gelas aqua. Si nocah asli nadanya cuek tapi bocah menggemaskan sedikit cempreng (namanya bocah) bilang "Makasih". Aku tertegun dengan suara bocah itu, lalu aku tanya "mau permen?" Dia bilang mau dan ngucapin "Makasih" lagi akhirnya aku melihat bocah itu, aku tidak tau dia laki-laki atau perempuan karena rambutnya lucu tebal lurus sepundak, menggunakan topi 'pancing' (nggak tau topi apa namanya) pakai kaos dan celana longgar selutut (maaf lusuh) dan mukanya sedikit ada noda mungkin debu angin. Belum sempat aku melihat dengan jelas, bocah itu ngacir entah kemana karena saat itu temanku mengajak ngobrol.

Aku penasaran, sekarang sampai menulis ini aku penasaran. Waktu itu pukul 11an siang, dan kalaupun dia masih kelas 1 atau 2 SD memang sudah waktunya pulang sekolah. Jadi teringat novel "Doa Anak Jalanan", sebegitukah hidup mereka sampai anak yg harusnya tidur siang atau bermain bersama temannya harus ikut berkeliling mencari uang, apa benar mereka punya seseorang atau beberapa orang yg selalu memberi target jatah setor per hari mereka. Benar, "Maka nikmat Tuhan mana lagi yg kau dustakan?", bersyukur bisa hidup lebih baik dari yg belum baik. Semoga mereka dan bocah pengamen itu memang sedang membutuhkan bukan mengkondisikan menjadi yg membutuhkan, karena masih banyak orang jujur dengan kondisi yg jauh membutuhkan daripada mereka.
Siapa nama bocah pengamen itu? Umur berapa dia? Kenapa dia melakukan itu? Apa cita-citanya? Apakah dia merasa sedih ?