Senin, 08 Mei 2017

Jaga "Kerudungmu" Mbak

Tetiba merasakan sedih :(
Sekedar berbagi cerita saja sobat,
Ini jelas perintah untuk "perempuan" yg memiliki kepercayaan "Mayoritas" di Indonesia untuk "menutup aurat" dan wajib untuk yg sudah baligh (bisa di baca di sini -> atau sumber lainnya http://www.duniaislam.org/17/11/2014/perintah-dan-hukum-memakai-jilbab-bagi-wanita-muslim/).


Beberapa kali saya melihat "snapgram" atau "storygram" beberapa teman saya yg lagi maen tapi melepaskan "kerudungnya" (bisa dilihat disini apa itu hijab, jilbab, khimar atau kerudung disini atai sumber lainnya -> http://www.duniaislam.org/02/02/2015/perbedaan-hijab-jilbab-khimar-dan-kerudung/).

Kenapa ya saya sedih ketika melihat rambut mereka terurai apalagi berada disekitar banyak yg bukan mukhrimnya. Saya tidak melakukan "judge" karena saya sendiri masih merasa belum benar dan dalam proses belajar untuk menutup aurat. Tapi bagi saya, ketika sudah memutuskan untuk "berkerudung" setidaknya konsisten jangan melepaskan di tempat umum yg ramai. Saya bukan tipe orang yg terlalu fokus dan "harus" pada sesuatu apalagi tentang "kepercayaan (re:agama)". Saya suka kebebasan, tapi saya mengharapkan ke "konsistenan" terhadap "kerudung" karena urusan kita dengan perintah Tuhan. Masa iya sudah ditutup tiba-tiba dibuka lagi, rasanya kayak membuka luka lama gitu haha (canda aja biar nggak yegang keseriusan). Bukankah sudah cukup bagus ketika memakai "kerudung" disertai penggunaan pakaian panjang ya meskipun masih ketat atau nerawang setidaknya sudah mau belajar untuk "menutup".


"Astaga mbak, pada kemana kerudungnya ...?"
"Masih di cuci fee ..wkwk"
"Ah bisa aja mbak ini"
"Wkwk"
Itu hanya mengingatkan loh ya, bukan menyindir atau "mengharuskan", sebagai seseorang yg termasuk makhluk sosialis (katanya manusia sebagai makhluk sosial) dan yg memiliki "kepercayaan" sama :)


dunia semakin menua ....
Mbak mbak jaga kerudungnya...
Ayo belajar bersama....
Menjaga dan menutup aurat....
Yg belum mencoba mari mulai bersama....
Karena ini perintah "kepercayaan" kita untuk menjadi lebih baik :)

Rabu, 22 Maret 2017

Tadinya Melow Garis Keras

Dari mana enaknya bercerita... dari nata turun ke hati ? Haha garing
Teman bukanlah segalanya karena aku sendiri pun pernah punya masa pait buat salah mengartikan arti "persahabatan" mungkin karena waktu itu masih ABG yg emosinya labil. Kalau ada yg bilang yg bisa menghancurkan persahabatan antara pria yaitu harta, tahta dan "wanita", ternyata pria juga bisa menghancurkan artinya "sahabat" antara wanita. Ah itu manusiawi kalau emang sekarang aku mikirnya, itu Tuhan udah merencanakan agar ciptaanNya bisa belajar. Sedikit aja aku ceritakan masa lalu yg pait itu, karena aku sendiri ingin mencoba terapi "virtual forgiveness" dari buku psikologi yg nggak sengaja aku ambil asal pas diperpus kemarin.
Dulu waktu SMP aku gaya gayaan punya geng isinya 4 orang cewek semua, terus pas masuk SMA 3 diantara kami masuk sekolah yg sama dan kebetulan ada 1 diantara mereka sekelas denganku dari kelas 10-12 (kalian pasti yg kenal aku tau, ini bukan buat menjelekkan atau maksud lainnya, tapi ini buat penyedap awal inti aku nulis ini). Ada 1 anggota baru lagi pas SMA sebenernya temen sejak SMP juga dan sampai sekarang kami masih akrab dan kumpul bareng. Waktu itu pas kelas 10 atau 11 aku lupa aku pernah punya "ehem" kakak kelas gitu, kami beserta 2 teman akrab ku itu masuk satu ekskul yg sama sampai suatu saat aku "jadian" sama si "ehem" itu. Awalnya nggak tau gimana sebenernya si "ehem" itu dan masih polos oon nya. Dan sekarang baru sadar kayak apa si "ehem" dulu pas sama aku. Suatu hari aku sama si ehem ada masalah (namanya juga ABG), sampai akhirnya putus. Pas putus baru aku ngeh kalau si ehem itu pernah main serong gitu ketemu mantannya dan pergi sama mantannya pas baru jadian sama aku (ini aku liat sendiri) dan ehem dulu sering keluar sama perempuan lain (ini dari teman baik ku lainnya yg awal bertemu nanya "kamu percaya ramalan?" Aku kangen dia). Lanjot, pas udahan sama si ehem, si ehem awalnya ngerajuk gitu hampir aku kepikat lagi baru terungkap kalau si ehem ndeketin temenku yg dari SMP itu, awalnya aku marah sampai bilang kalau sahabat yg dari SMP itu udah nggak ada lagi. Lama kelamaan yaudah lah biarin aja mereka dan aku masih baik baik aja sama si temenku itu sampai sekarang. Dia nggak pernah cerita sama aku tapi aku kan sebenernya peka cuma pura pura osong aja sama peka. Sampai sekarang aku nggak tau mereka masih apa enggak. Ini keinget gara-gara si denis nanyain si ehem di aku. Lah akunya kan bodo amat, yg lalu udah lah berlalu gitu. 
Mangkannya salah satu alasan aku nggak terbuka sama orang itu karena itu, mungkin karena kejadian kejadian masa lalu juga. Orang tuaku dulu bukan seperti sekarang, dulu mereka (menurutku sebagai anak) kalau aku mau curhat pasti dimarahin duluan, sekarang alhamdulillah udah mau dengerin dulu meskipun kadang baru dimarahin. Pernah juga itu pas itu aku punya diary, ketaun ibuk aku dimarahin sampai 3 hari lebih sampai aku sobek sobek itu diary. Ibuk pernah bilang itu dulu pas marah gara-gara kasus diary itu "kono ben mentingne koncone kono".... 
Itu cerita dulu, sekarang makin bertambah umur aku merasa sudah mulai dewasa haha baru baru ini pas baru masuk kuliah, aku mulai berani untuk cerita ke 3 teman baruku di jaman maba dan sekarang i think they are my member family haha.... seriusan kalau nggak percaya coba tanyakan Tuhan, aku bukan orang yg suka cerita masalah serius ke orang lain dan cenderung menggunakan kebiasaan buruk dengan mengupdate di medsos medsos.. sekarang i have them. Memang keluargaku diatas segala galanya dibawah Tuhan, tapi dengan keberadaan Alfita, Sibad dan Eta ... seperti Tuhan sudah menyusin cerita mereka adalah kepercayaan Tuhan untuk ku bercerita. Ya i know, nggak bisa dipungkiri kadang aku sebal sama mereka atau kadang aku sebal sama keluargaku sendiri, manusiawi karena aku masih belajar menjadi seseorang yg nggak mudah marah atau ngambekan. Kalian pasti yg kenal aku tau aku mudah ngambek tiba tiba terus diem tiba tiba marah nggak jelas, aku nggak tau kenapa begitu tapi seriusan aku lagi belajar dengan petunjuk Tuhan buat mengurangi atau menghilangkan itu. Bukan membandingkan dengan anggota keluarga karena mereka yg bukan memiliki hubungan darah kecuali kalian mengaitkan dengan sama sama cucu Nabi Adam, sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri. Memang ada beberapa teman yg kadang cuma menilai dari luar, judge langsung dari luar tanpa tau apa di dalam diriku ini. Haha ...... katanya selama hidup manusia mengalami proses belajar, ya ini aku masih belajar, mohon bimbingannya. Tadi melow kok sekarang biasa aja ya udah nggak melow melow banget. Big thanks for Allah SWT dan seluruh yg dicintaiNya... thank for ibuk papa, helen sherly ican, alfita sibad eta (ini yg khusus) dan teman teman semuanya yg lainnya, terima kasih sudah membantu belajar...

Jumat, 13 Januari 2017

Bocah Pengamen

Hari ini, sepulang akhir UAS di ujung kuliah Semester Tua aku dan 2 orang temanku menikmati sarapan sekaligus makan siang kami di warung Bu Nur. Kali ini bukan tentang soto, jus alpukat atau cowok tampan yg sedang nangkring disitu, tapi seorang bocah pengamen. Sudah biasa selama aku makan di warung bu Nur banyak pengamen yg menjajakan suaranya demi (semoga) sesuap nasi. Biasanya mereka ada di depan warung sampai akhirnya mereka nekat menodongkan plastik kecil untuk mengumpulkan kepingan koin atau lembaran 2rb. Baru tadi setelah aku selesai makan muncul seorang pengamen entah laki-laki atau perempuan aku membelakanginya. Karena posisi dudukku di pojok dalam, tiba-tiba muncul sesosok makhluk kecil paling usianya 6 atau 7 tahun kurasa, karena dia benar-benar kecil. Waktu bocah itu datang ke mejaku, aku masih mencari-cari koin dan kebetulan aku membeli permen kaki lumayan 5 biji. Setelah aku ambil koin dan 1 permen kaki, kumasukkan koin itu ke gelas aqua. Si nocah asli nadanya cuek tapi bocah menggemaskan sedikit cempreng (namanya bocah) bilang "Makasih". Aku tertegun dengan suara bocah itu, lalu aku tanya "mau permen?" Dia bilang mau dan ngucapin "Makasih" lagi akhirnya aku melihat bocah itu, aku tidak tau dia laki-laki atau perempuan karena rambutnya lucu tebal lurus sepundak, menggunakan topi 'pancing' (nggak tau topi apa namanya) pakai kaos dan celana longgar selutut (maaf lusuh) dan mukanya sedikit ada noda mungkin debu angin. Belum sempat aku melihat dengan jelas, bocah itu ngacir entah kemana karena saat itu temanku mengajak ngobrol.

Aku penasaran, sekarang sampai menulis ini aku penasaran. Waktu itu pukul 11an siang, dan kalaupun dia masih kelas 1 atau 2 SD memang sudah waktunya pulang sekolah. Jadi teringat novel "Doa Anak Jalanan", sebegitukah hidup mereka sampai anak yg harusnya tidur siang atau bermain bersama temannya harus ikut berkeliling mencari uang, apa benar mereka punya seseorang atau beberapa orang yg selalu memberi target jatah setor per hari mereka. Benar, "Maka nikmat Tuhan mana lagi yg kau dustakan?", bersyukur bisa hidup lebih baik dari yg belum baik. Semoga mereka dan bocah pengamen itu memang sedang membutuhkan bukan mengkondisikan menjadi yg membutuhkan, karena masih banyak orang jujur dengan kondisi yg jauh membutuhkan daripada mereka.
Siapa nama bocah pengamen itu? Umur berapa dia? Kenapa dia melakukan itu? Apa cita-citanya? Apakah dia merasa sedih ?

Jumat, 25 November 2016

Bulan Terbelah di Langit Amerika - Hanum Salsabiela

Sekitar 4 hari yang lalu aku diberi saran oleh temanku, untuk download aplikasi IJakarta. Awalnya aku bingung, aplikasi apa itu. Setelah dia mengatakan bahwa itu aplikasi semacam Library Online aku langsung mencoba mendownloadnya karena aku adalah orang yang menyukai membaca. Sampai banyak orang menyindirku "Novel ae, uripmu kakean drama!" dan mereka sebenarnya belum menemukan apa artinya "bersyukur, ditegur, diyakinkan danvdiberi pelajaran" oleh Maha Segala-galanya melalui sebuah novel.

Setelah selesai download aplikasi IJakarta atau IJak, langsung aku search bacaan apa yg "mungkin" bisa menarik hati ini. Tidak semua novel tersedia, hanya yg ikhlas menyumbang dalam bentuk dokumen bacaan mereka dikumpulkan. Jadi teringat ketika berbincang bersama salah satu kawan tentang aplikasi baca online dan aku menampik kalau perusahaan percetakan bisa saja rugi dan terancam bangkrut padahal sebenernya menyenangkan membaca dalam bentuk dokumen online seperti ini.

Buku "Bulan Terbelah di Langit Amerika" menjadi buku pertama pilihanku. Halaman buku yang tertera sebanyak 355 halaman itu membuatu sedikit ragu untuk memulai membaca. Tapi karena rasa penasaran mendorongku untuk membacanya dan membandingkannya dengan filmnya, aku mulai membacanya. Cerita sepasang suami istri Hanum dan Rangga perjalanan ke luar negeri yaitu Amerika untuk menunaikan tugasnya di padu padankan dengan kisah heroik pesawat yang menubruk menara kembar WTC 9/11 oleh teroris yang mengatas namakan "Jihad sebagai seorang Muslim" membuat tema judul majalah yg akan diangkat Hanum yaitu "Apakah dunia lebih baik tanpa Islam?" dapat dilihat dari banyak sisi, yg meluruskan semua agama sebenarnya sama saja, mereka percaya ada Sang Maha Segalanya yg tidak bisa dinalar dengan logika. Heroik, religius, tidak khusus untuk pembaca Muslim dan Universal. Memberi pelajaran, menambah syukur, berasa tersindir karena banyak kekurangan dalam keyakinan, campur aduk rasanya. Jadi asli novel ini lanjut recomended buat kalian. Tapi ngomong-ngomong apakah Hanum dalam cerita sama dengan penulis buku Hanum Salsabiela ?? Nggak sia sia pinjem dikasih waktu hanya 2 hari kemudian mau lanjut harus antri dulu.

P.s : maafkan gambar cover nggak ada dan ada kutipan menarik untuk dijadikan gambar.

Kamis, 20 Oktober 2016

Menjadi Djo - Dyah Rinni


Ini judulnya "Menjadi Djo" D J O bukan D I O, beda. Mau sekedar ngasih opini dari buku ini. Novel ini aku beli pas ada diskon di Gramedia 20k, iseng iseng soalnya udah semester tua. Covernya lucu, bolak balik aku kira gambar benang itu rambut rontok. Sayang, aku gak tau ini ada pembatasnya apa enggak, yg jelas aku gak dapet pembatas. Gak tau kelewatan atau lupa kata-kata di cover yg "karena KEYAKINAN menghapuskan KETAKUTAN" ada disebelah mana . Ada 1 kalimat yg aku garis bawahin karena aku suka yaitu "Katanya, di wajah seorang sahabat, kita melihat diri kita sendiri."

Kalau masalah isi bahasanya ringan, alurnya jelas dari si A Guan kecil sampai lulus ganti nama Djohan. Selain ada kisah percintaan, persahabatan, keluarga, disini bahas tentang suatu keturunan Cina yg sebenernya WNI asli. Rasis, minoritas, diskriminasi, kejawab sama Djo kalau dia setia di Indonesia. Sempat dibahas tentang G 30S PKI di Medan hanya sedikit, yg menimbulkan penasaran karena banyak sudut tentang peristiwa sejarah itu. Recomended