Jumat, 13 Januari 2017

Bocah Pengamen

Hari ini, sepulang akhir UAS di ujung kuliah Semester Tua aku dan 2 orang temanku menikmati sarapan sekaligus makan siang kami di warung Bu Nur. Kali ini bukan tentang soto, jus alpukat atau cowok tampan yg sedang nangkring disitu, tapi seorang bocah pengamen. Sudah biasa selama aku makan di warung bu Nur banyak pengamen yg menjajakan suaranya demi (semoga) sesuap nasi. Biasanya mereka ada di depan warung sampai akhirnya mereka nekat menodongkan plastik kecil untuk mengumpulkan kepingan koin atau lembaran 2rb. Baru tadi setelah aku selesai makan muncul seorang pengamen entah laki-laki atau perempuan aku membelakanginya. Karena posisi dudukku di pojok dalam, tiba-tiba muncul sesosok makhluk kecil paling usianya 6 atau 7 tahun kurasa, karena dia benar-benar kecil. Waktu bocah itu datang ke mejaku, aku masih mencari-cari koin dan kebetulan aku membeli permen kaki lumayan 5 biji. Setelah aku ambil koin dan 1 permen kaki, kumasukkan koin itu ke gelas aqua. Si nocah asli nadanya cuek tapi bocah menggemaskan sedikit cempreng (namanya bocah) bilang "Makasih". Aku tertegun dengan suara bocah itu, lalu aku tanya "mau permen?" Dia bilang mau dan ngucapin "Makasih" lagi akhirnya aku melihat bocah itu, aku tidak tau dia laki-laki atau perempuan karena rambutnya lucu tebal lurus sepundak, menggunakan topi 'pancing' (nggak tau topi apa namanya) pakai kaos dan celana longgar selutut (maaf lusuh) dan mukanya sedikit ada noda mungkin debu angin. Belum sempat aku melihat dengan jelas, bocah itu ngacir entah kemana karena saat itu temanku mengajak ngobrol.

Aku penasaran, sekarang sampai menulis ini aku penasaran. Waktu itu pukul 11an siang, dan kalaupun dia masih kelas 1 atau 2 SD memang sudah waktunya pulang sekolah. Jadi teringat novel "Doa Anak Jalanan", sebegitukah hidup mereka sampai anak yg harusnya tidur siang atau bermain bersama temannya harus ikut berkeliling mencari uang, apa benar mereka punya seseorang atau beberapa orang yg selalu memberi target jatah setor per hari mereka. Benar, "Maka nikmat Tuhan mana lagi yg kau dustakan?", bersyukur bisa hidup lebih baik dari yg belum baik. Semoga mereka dan bocah pengamen itu memang sedang membutuhkan bukan mengkondisikan menjadi yg membutuhkan, karena masih banyak orang jujur dengan kondisi yg jauh membutuhkan daripada mereka.
Siapa nama bocah pengamen itu? Umur berapa dia? Kenapa dia melakukan itu? Apa cita-citanya? Apakah dia merasa sedih ?